Bismillahir-Rah manir-Rahim ... Ada seorang istri yang memiliki suami
yang seorang insinyur. Dia mencintai sifatnya yang alami dan menyukai
perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya
yang bidang.
Setelah tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, si istri mulai merasa lelah. Alasan-alasan dia mencintai suaminya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
“Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta
berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang
anak yang menginginkan permen.” ungkapan yg selalu muncul dibenaknya.
“Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan pada dirinya. Suami saya
jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Ketidakmampuann ya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang
ideal.” pikiran sang istri yg selalu bergelanyut di kepalanya.
Suatu hari, sang istri memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada sang suami, bahwa dia menginginkan perceraian.
“Mengapa ?”, sang suami bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. jwb sang istri.
Si suami terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan sang istri semakin bertambah, merasa suaminya adalah seorang
pria yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, “Apalagi yang bisa
saya harapkan darinya ?” gerutunya dalam hati.
Dan akhirnya sang suami bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
Sang istri menatap mata suaminya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,
“Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati, saya akan merubah pikiran saya “.
“Sayangku, seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di
tebing gunung, akan tetapi kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung
itu kamu akan mati, apakah kamu akan melakukannya untukku ?” lanjut sang
istri.
Si suami termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok”.
Hati si istri langsung gundah mendengar respon suaminya seperti itu.
Keesokan paginya, sang suami tidak ada di rumah, dan sang istri
menemukan selembar kertas dengan coretan tangan suaminya dibawah sebuah
gelas yang berisi susu hangat.
Disitu tertulis … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya”.
Kalimat pertama ini menghancurkan hati sang istri, namun tetap penasaran untuk melanjutkan untuk membacanya.
” Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan
program-program di PC dan akhirnya menangis di depan monitor karena
panik, namun saya selalu memberikan jari-jari saya supaya bisa
membantumu dan memperbaiki programnya.
Kamu selalu lupa membawa
kunci rumah ketika kamu keluar, dan saya harus memberikan kaki saya
supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.
Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di
tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar
bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.
Kamu selalu
pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya
harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.
Kamu senang diam di rumah dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”.
Dan saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.
Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku sambil tidur dan itu semua
tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar
ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu
dan mencabuti ubanmu.
Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai,
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna
bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu .
Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.
Sayangku, saya tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari apa
yang dapat aku lakukan. Namun jika semua yang telah diberikan tanganku,
kakiku, mataku tidak juga cukup bagimu, maka aku tidak akan bisa
menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat
membahagiakanmu “.
Air mata sang istri jatuh ke atas tulisan
suaminya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi dia tetap berusaha
untuk membacanya.
” Sayang, kamu telah selasai membaca jawaban
saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku
untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita,saya
sekarang sedang berdiri didepan menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas
sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku , dan aku
tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia
“.
Sang istri segera berlari membuka pintu dan melihat suaminya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang
susu dan roti kesukaan istrinya.
“Oh… kini saya tahu, tidak
ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.” ucap
sang istri sambil terisak memeluk suaminya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsu r hilang dari
hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam
wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam
wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang
kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan
mengharapkan wujud tertentu.
Wallahu a'lam bish-shawab ...
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Title : ... Surat Cinta sang Suami kepada sang Istri ...
Description : Bismillahir-Rah manir-Rahim ... Ada seorang istri yang memiliki suami yang seorang insinyur. Dia mencintai sifatnya yang alami dan meny...
Rating : 5